Parade Musik Pilbup Pringsewu 2017 Gabungkan Musik Modern dengan Unsur Lokal

649
Juri Ardiantoro memukul kentongan bambu berukuran jumbo dalam acara Parade Musik Demokrasi Pilbup Pringsewu 2017. Acara musik itu menjadi perhatian tersendiri, banyak warga yang terpaksa mengeluarkan ponselnya masing-masing untuk mengabadikan momen itu.

Pringsewu, kpu.go.id – Meriah. Satu kata itulah yang dapat menggambarkan acara Parade Musik Demokrasi Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati (Pilbup) Pringsewu tahun 2017. Sejak masuk pendopo Kabupaten Pringsewu, Lampung, irama kentongan sudah menyambut Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI Juri Ardiantoro, dan Anggota Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) RI Saut Hamonangan Sirait yang menghadiri forum sosialisasi itu, Rabu (10/8).

KPU Kabupaten Pringsewu sengaja menyandingkan musik modern dengan irama kentongan dan alat musik lokal berbahan dasar bambu kebangaan masyarakat Pringsewu. Hal itu guna menarik minat masyarakat sekitar untuk mendukung jalannya Pilbup Pringsewu yang berintegritas.

Juri Ardiantoro merespon positif upaya KPU Kabupaten Pringsewu yang berinisiatif menggabungkan isu-isu kepemiluan dengan musik modern plus kearifan lokal, sehingga mudah diterima oleh masyarakat.

“Kemasan sosialisasi itu tidak usah terlalu serius. Jadi sosialisasi bisa dikemas dengan berbagai macam bentuk, sehingga masyarakat tertarik dan terlibat langsung di dalam pemilu,” terang Juri.

Juri menambahkan, peran serta masyarakat dalam mensukseskan pilkada merupakan unsur penting. Oleh karena itu ia berpesan kepada penyelengga pemilu untuk menarik minat tersebut dengan tema-tema populer supaya dapat menimbulkan stimulus positif tanpa paksaan.

“Menikmati pemilu dengan menikmati hiburan ini pesannya bisa lebih mudah diterima oleh masyarakat. Saya kira in bisa dilanjutkan untuk kegiatan-kegiatan serupa di tingkat kecamatan, kelurahan, desa, sehingga masyarakat menjadi sadar sejak awal bahwa pilkada akan segera dimulai,” lanjut dia.

Lebih lanjut mengenai hal itu, Ketua KPU Pringsewu Andreas Andoyo mengatakan, KPU memilih kentongan sebagai unsur lokal karena terinspirasi dari familiar-nya masyarakat Pringsewu dengan kentongan. Instrumen yang sejak dulu terkenal bisa mengumpulkan warga dalam jumlah yang banyak.

“KPU Pringsewu mencoba berbagai metode untuk sosialisasi, dan pada Pilkada 2017 ini ada seribu kentongan sebagai simbol alat untuk memanggil para pemilih pada saat hari-H,” kata Andoyo.

Secara khusus ia berencana pada 15 Februari mendatang seluruh Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Kabupaten Pringsewu bisa memanggil warganya menggunakan kentongan bambu, agar masyarakat secara naluriah mendatangi TPS dan menggunakan hak pilihnya.

“Kami sudah merencanakan pada saat hari-H nanti di setiap TPS ada kentongan. Dan secara serentak di 821 TPS di segala penjuru dan pelosok Kabupaten Pringsewu pada Rabu, 15 Februari 2017 pukul 07.00 WIB seluruh KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) memukul kentongan untuk mengingatan masyarakat menggunakan hak pilihnya,” papar dia.

Bangun Indonesia Dengan Etika

Sementara itu, Anggota DKPP RI Saut Hamonangan Sirait mengatakan, Pilkada Serentak 2017 yang tahapannya sudah dimulai saat ini merupakan momentum tepat untuk membangun Indonesia dengan etika.

“Pemilu di Pringsewu ini akan berkualitas kalau money politics terhapus. Maka ini saatnya Indonesia dibangun dengan etika, yaitu jangan lagi kita memaksa para calon mengeluarkan uang. Tetapi mengeluarkan program-program yang paling indah,” kata Saut.

Saut yakin jika money politics sudah musnah, praktek korupsi akan hilang dan pembangunan Indonesia akan berjalan dengan baik. Untuk itu ia meminta masyarakat agar mengatakan tidak pada politik uang.

“Kalau calon bupati sudah tidak money politics, korupsi tidak akan ada lagi di Indonesia. Dan kalau korupsi sudah terhapus, jalan-jalan tidak ada berlubang, dan pendidikan akan berkualitas. Jadi jangan paksa para calon untuk membeli suara saudara-saudara,” ujar dia. (ris/red. FOTO KPU/dosen/Hupmas)